Stres sebagai faktor risiko diabetes tipe 1

Sumber terverifikasi Diperbarui: 7 September 2026 11 menit baca

Tekanan batin maupun tekanan pada tubuh dapat memengaruhi tercetusnya dan berkembangnya diabetes tipe 1, tetapi bukan penyebab sebenarnya dari penyakit ini.

≈90%
sel beta sudah rusak saat diagnosis
4
hormon stres yang menaikkan gula darah
1 dari 3
juga mengidap penyakit autoimun lain

Dapatkah diabetes tipe 1 tercetus oleh satu peristiwa yang sangat menekan?

Satu peristiwa yang sangat menekan tidak dapat sendirian menimbulkan diabetes melitus tipe 1. Diabetes tipe 1 muncul ketika, di atas latar kecenderungan genetik, berjalan proses autoimun yang sedikit demi sedikit merusak sel beta di dalam pankreas. Tekanan yang hebat dianggap sebagai kemungkinan faktor pencetus, yaitu unsur yang dapat mempercepat munculnya penyakit pada orang yang autoimunitasnya sudah berada dalam tahap lanjut. Tanpa kecenderungan genetik dan tanpa proses autoimun yang sudah berjalan, stres sendirian tidak dapat menciptakan penyakit ini [1].

Anda dapat membayangkan stres sebagai tetes air yang membuat gelas meluap. Kalau Anda mengetahui diagnosisnya setelah satu peristiwa yang berat, wajar kalau Anda mencari penjelasan. Padahal tidak ada seorang pun yang bersalah atas munculnya diabetes tipe 1 klinis yang nyata, yaitu yang disertai hiperglikemia. Peristiwa itu besar kemungkinan bertepatan dengan saat penyakitnya sudah hampir menampakkan diri. Cara pandang ini membantu Anda memahami diagnosisnya tanpa rasa bersalah yang keliru dan memusatkan perhatian pada langkah-langkah berguna yang harus Anda ambil mulai sekarang [1].

Bagaimana tekanan batin yang menahun memengaruhi sistem imun?

Ketika stres menjadi menahun, tubuh Anda mempertahankan kadar kortisol dan zat tanggapan stres lainnya tetap tinggi. Keseimbangan hormonnya dengan begitu terganggu, sehingga cara sel-sel imun berhubungan satu sama lain berubah. Muncul peradangan yang samar tetapi menetap, dan pembentukan zat yang memelihara peradangan (sitokin) menjadi besar secara tidak semestinya. Seiring waktu, sel yang seharusnya menjaga toleransi imun — yaitu mencegah serangan terhadap tubuh sendiri — kehilangan sebagian keefektifannya [2].

Hilangnya toleransi imun ini sangat berperan dalam penyakit autoimun, termasuk diabetes tipe 1. Sistem imun yang lelah dan kacau dapat lebih sulit mengenali sel mana yang "milik rumah" dan mana yang asing. Begitulah dijelaskan mengapa stres yang berkepanjangan dianggap sebagai lahan yang mendukung tercetusnya atau berkembangnya autoimunitas. Istirahat, tidur yang cukup, dan dukungan perasaan bukan sekadar anjuran untuk hidup yang tenang, melainkan benar-benar berperan dalam keseimbangan sistem imun Anda [2].

Ya, data menunjukkan adanya pengaruh. Anak dengan risiko genetik diikuti dalam jangka panjang lewat penelitian. Penelitian itu menunjukkan bahwa tekanan yang berat selama kehamilan (masa janin) atau pada tahun-tahun pertama kehidupan dapat memengaruhi risiko diabetes tipe 1 di kemudian hari. Dalam masa itu, sistem imun dan poros hormon stres sedang terbentuk dan ditera. Peristiwa berat yang dialami ibu selama kehamilan atau pengalaman sulit anak kecil dapat meninggalkan jejak. Jejak itu berkaitan dengan cara tubuh nanti menanggapi beberapa serangan imun [3].

Gagasan ini tidak berarti bahwa seorang anak yang melewati masa-masa sulit pasti akan mengalami diabetes tipe 1 atau penyakit autoimun lain. Artinya hanya bahwa lingkungan perasaan pada masa dini merupakan salah satu dari banyak unsur yang dapat memengaruhi risiko itu, di samping gen, infeksi, dan faktor lain. Kalau Anda seorang orang tua atau sedang bersiap menjadi orang tua, lingkungan yang hangat dan mantap sudah merupakan penanaman modal yang nyata bagi kesehatan anak Anda. Tidak ada jaminan yang mutlak, tetapi perhatian pada keseimbangan perasaan si kecil sebenarnya bernilai jauh melampaui risiko diabetes tipe 1 [3].

Dapatkah stres mempercepat perkembangan dari stadium praklinis ke stadium klinis diabetes tipe 1?

Diabetes tipe 1 mempunyai stadium yang dibatasi dengan jelas sebelum menjadi terlihat. Pada stadium 1, Anda mempunyai antibodi yang khas, tetapi gula darahnya normal. Pada stadium 2, muncul gangguan gula darah yang pertama, sedangkan antibodinya tetap ada, tanpa gejala. Stadium 3 adalah saat penyakitnya menampakkan diri secara klinis dan menuntut pengobatan dengan insulin. Perpindahan antara stadium-stadium itu dapat berlangsung bertahun-tahun dan bergantung pada beberapa faktor [4].

Stres yang hebat atau berkepanjangan dianggap sebagai faktor yang dapat mempercepat perjalanan itu. Stres memelihara peradangan latar, menaikkan kebutuhan insulin, dan menuntut kerja tambahan dari sel beta, yang sudah terganggu oleh autoimunitas. Di atas lahan yang rapuh, upaya tambahan itu dapat memunculkan lebih cepat penyakit yang bagaimanapun sudah akan muncul. Penanganan stres tidak menghentikan proses autoimun dan tidak mencegah penyakitnya. Namun penanganan itu dapat membantu Anda melewati masa ini dengan lebih ringan. Anda dapat menanggapi dengan cepat tanda pertama penyakit yang klinis: rasa haus yang hebat, sering buang air kecil, dan penurunan berat badan tanpa disengaja [4].

Apakah anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang tegang berisiko lebih besar mengalami diabetes tipe 1?

Penelitian pada kohort anak yang besar telah menganalisis peristiwa berat yang dialami dalam keluarga. Yang dimaksud adalah perceraian orang tua, pertengkaran yang berulang, kehilangan orang yang dekat, atau penyakit berat dalam keluarga. Peristiwa-peristiwa itu dapat berkaitan dengan risiko diabetes tipe 1 yang lebih besar. Anak sangat peka terhadap suasana di sekitarnya, bahkan ketika tampaknya mereka "tidak mengerti". Tubuh mereka menanggapi ketegangan yang terus-menerus di lingkungannya dengan mengaktifkan tanggapan stres berulang kali, dan hal itu dapat memengaruhi keseimbangan imun [5].

Penting bagi Anda untuk memahami bahwa tidak ada keluarga yang sempurna dan bahwa melewati masa-masa berat tidak berarti penyakitnya akan muncul pada anak. Yang dibicarakan adalah risiko statistik, bukan vonis. Kalau di rumah Anda telah melewati masa-masa yang sulit, hal yang paling berguna adalah memberi anak ketetapan, percakapan yang terbuka, dan, bila perlu, dukungan psikologis dari tenaga profesional. Perbuatan-perbuatan itu berdampak melindungi secara luas pada kesehatan tubuh dan jiwa, meskipun tidak dapat sepenuhnya menghapus risiko yang juga bergantung pada gen [5].

Stres sekolah yang biasa, yang berkaitan dengan ujian, tugas, atau hubungan dengan teman-teman, tidak dianggap sebagai penyebab diabetes tipe 1. Tidak ada bukti bahwa satu ujian yang sulit atau satu masa yang padat di sekolah dapat mencetuskan penyakit ini dengan sendirinya. Yang teramati dalam penelitian lebih berkaitan dengan stres yang menahun, berat, dan berkepanjangan, bukan dengan ketegangan wajar di sekitar sebuah tes atau sebuah karya tulis [1].

Sebaliknya, kalau Anda sudah mengidap diabetes tipe 1, masa ujian dapat memengaruhi gula darah Anda secara nyata. Hormon stres yang dilepaskan saat perasaan sedang kuat menaikkan kadar gula darah untuk sementara, meskipun Anda makan dan tidur seperti biasa. Hal itu tidak berarti Anda melakukan kesalahan dalam pengobatan, melainkan hanya bahwa tubuh Anda menanggapi tekanan. Ada gunanya Anda membicarakan dengan tim medis cara menyesuaikan pemantauan gula darah dan dosis insulin pada masa yang padat, tanpa menyalahkan diri sendiri atas perubahan yang wajar itu [6].

Mengapa diagnosis diabetes tipe 1 kadang muncul tak lama setelah peristiwa yang menekan?

Kebetulan ini dijelaskan lewat gejala yang disebut "penyingkapan" penyakit. Sebelum gejalanya muncul, sebagian besar sel beta pankreas mungkin sudah rusak, dan pembentukan insulinnya sudah berada di batas. Sebuah peristiwa yang menekan, baik pada tubuh maupun pada perasaan, mencetuskan pelepasan hormon yang menekan gula darah supaya naik, dan akibatnya kebutuhan insulin pun naik. Pankreas endokrin, yaitu bagian yang membuat insulin, sudah melemah dan tidak sanggup lagi, sehingga penyakitnya tiba-tiba menjadi terlihat secara klinis [1].

Dengan kata lain, stres tidak menciptakan penyakitnya, melainkan menyingkapkannya lebih awal. Tanpa peristiwa itu, diagnosisnya besar kemungkinan ditegakkan sedikit lebih lambat, ketika proses autoimunnya bagaimanapun sudah maju. Gagasan ini penting bagi Anda dan bagi keluarga. Anda tidak "menimbulkan" penyakitnya lewat satu perasaan yang kuat, melainkan hanya mengamatinya pada saat tubuh tidak lagi dapat menyembunyikannya, seperti yang ditunjukkan gambar di bawah [1].

Gambar 1

Bagaimana peristiwa yang menekan menyingkap penyakitnya

  1. Langkah 1Cadangannya sudah hampir habisSebelum gejalanya muncul, sebagian besar sel beta mungkin sudah rusak, dan pembentukan insulinnya berada di batas.
  2. Langkah 2Muncul peristiwa yang menekanBaik pada tubuh maupun pada perasaan, peristiwa itu mencetuskan pelepasan hormon yang menaikkan gula darah.
  3. Langkah 3Kebutuhan insulin naikTubuh tiba-tiba meminta insulin lebih banyak daripada sebelumnya.
  4. Langkah 4Penyakitnya menjadi terlihatPankreas yang melemah tidak sanggup lagi, dan diagnosisnya ditegakkan pada hari-hari berikutnya.
Stres tidak menciptakan penyakitnya, melainkan menyingkapkannya lebih awal [1]. Tanpa peristiwa itu, diagnosisnya besar kemungkinan datang sedikit lebih lambat, ketika proses autoimunnya bagaimanapun sudah maju. Anda tidak menimbulkan penyakitnya lewat satu perasaan yang kuat, hanya mengamatinya ketika tubuh tidak lagi dapat menyembunyikannya.

Dapatkah tekanan pada tubuh mencetuskan diabetes tipe 1?

Yang dimaksud tekanan pada tubuh adalah tuntutan besar bagi tubuh, seperti infeksi yang berat, pembedahan, cedera, luka bakar yang berat, atau penyakit akut yang berkepanjangan. Dalam keadaan itu, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin dalam jumlah besar untuk menghadapi serangan tersebut. Kebutuhan insulin naik secara bermakna, dan kalau sel beta sudah terganggu oleh proses autoimun yang sedang berjalan, sel beta tidak lagi dapat memenuhi tuntutan itu. Kadang diabetes tipe 1 memang sudah berada pada stadium praklinis yang lanjut. Begitulah dijelaskan mengapa penyakitnya muncul dalam bentuk yang disertai hiperglikemia dan gejala (stadium 3) justru selama atau segera setelah satu penyakit yang berat [7].

Beberapa infeksi virus, di samping dampaknya sebagai tekanan umum pada tubuh, dapat mengganggu sel pankreas secara langsung atau merangsang secara tidak semestinya sistem imun yang sudah kacau. Hal itu tidak berarti setiap influenza atau setiap pembedahan akan menimbulkan penyakitnya. Pada sebagian besar kasus, tekanan pada tubuh teratasi tanpa akibat apa pun pada pankreas. Kalau toh diabetes tipe 1 muncul dalam keadaan seperti itu, biasanya yang dihadapi adalah penyakit yang memang sudah bersiap, di atas lahan genetik dan imun yang cocok [8]. Kalau selama satu penyakit akut atau segera sesudahnya muncul rasa haus yang hebat, sering buang air kecil, dan penurunan berat badan, mintalah pemeriksaan dokter pada hari yang sama. Kalau muncul muntah, napas berat, atau rasa mengantuk, segeralah ke unit gawat darurat.

Dapatkah penanganan stres menurunkan risiko diabetes tipe 1 pada orang dengan kecenderungan genetik?

Tidak ada bukti yang jelas bahwa teknik penanganan stres dapat sendirian mencegah munculnya diabetes tipe 1 pada orang dengan risiko genetik atau dengan antibodi yang positif. Proses autoimunnya bergantung pada banyak unsur, dan stres hanyalah salah satunya. Meskipun begitu, mengurangi stres tetap dianjurkan, karena hal itu menopang keseimbangan imun secara umum, memperbaiki tidur, dan mempererat hubungan dalam keluarga. Semua itu berguna bagi kesehatan Anda, terlepas dari apakah Anda mengalami penyakit itu atau tidak [9].

Kalau Anda berada dalam program pemantauan orang yang berisiko, beberapa teknik dapat membantu Anda. Yang dimaksud adalah pernapasan yang disadari, kegiatan jasmani yang teratur, tidur yang cukup, terapi kognitif-perilaku, atau konseling. Semuanya menopang Anda untuk menjalani masa pemantauan itu dengan lebih baik. Tujuannya bukan menjanjikan kekebalan dari penyakit, melainkan memberi Anda alat untuk hidup seimbang sampai keadaannya menjadi jelas. Kalau toh penyakitnya muncul, kebiasaan-kebiasaan itu akan tetap berharga untuk mengendalikan gula darah dan untuk kesehatan jiwa Anda dalam jangka panjang [9].

Dapatkah stres menaikkan gula darah bahkan pada orang yang belum mengidap diabetes tipe 1?

Ya, stres dapat menaikkan gula darah juga pada orang tanpa diabetes. Selama satu perasaan yang kuat, satu penyakit akut, atau satu pembedahan, tubuh Anda melepaskan hormon seperti kortisol, adrenalin, glukagon, dan hormon pertumbuhan. Hormon-hormon itu menekan hati untuk membuat lebih banyak glukosa, yang dilepaskannya langsung ke dalam darah. Pada saat yang sama, hormon-hormon itu untuk sementara menurunkan kepekaan terhadap insulin. Ini mekanisme pertahanan yang tua, yang dirancang untuk memberi Anda "bahan bakar" dengan cepat ketika Anda perlu bereaksi, yaitu glukosa untuk otot [10].

Kenaikan gula darah ini bersifat sementara dan kembali normal setelah peristiwanya berlalu. Karena itu, satu nilai yang sedikit naik yang diukur pada saat tegang belum tentu berarti diabetes. Meskipun begitu, kalau Anda mengamati kenaikan gula darah yang berulang dalam keadaan stres, atau kalau hiperglikemianya menetap setelah masalah akutnya teratasi, ada baiknya Anda menjalani pemeriksaan tambahan. Dengan begitu Anda dapat mengenali sejak dini gangguan gula darah yang sungguh ada dan dapat mengambil langkah sebelum keadaannya menjadi rumit [10].

Kesimpulan

  • Tekanan batin maupun tekanan pada tubuh tidak dapat menjadi penyebab diabetes tipe 1, tetapi dapat mempercepat munculnya di atas latar genetik dan autoimun yang sudah ada [1].
  • Stres yang menahun mengganggu keseimbangan hormon, sehingga mendorong peradangan dan hilangnya toleransi imun [2].
  • Peristiwa berat pada masa kanak-kanak atau pada masa sebelum lahir dapat menaikkan risiko statistik diabetes tipe 1 [3] [5].
  • Tekanan akut pada tubuh — infeksi, cedera, pembedahan — dapat menyingkapkan diabetes tipe 1 yang masih praklinis, lewat naiknya kebutuhan insulin secara mendadak [7].
  • Teknik penanganan stres tidak mencegah penyakitnya, tetapi menopang kesehatan secara umum dan kendali metaboliknya [9].

Anda mungkin juga tertarik

Halaman lain tentang epidemiologi diabetes tipe 1.

Istilah glosarium yang dipakai di sini

Rujukan

  1. Ingrosso DMF, Primavera M, Samvelyan S, Tagi VM, Chiarelli F. Stress and Diabetes Mellitus: Pathogenetic Mechanisms and Clinical Outcome. Horm Res Paediatr. 2023;96(1):34-43. PubMed
  2. Gutierrez Nunez S, Peixoto Rabelo S, Subotic N, Caruso JW, Knezevic NN. Chronic Stress and Autoimmunity: The Role of HPA Axis and Cortisol Dysregulation. Int J Mol Sci. 2025;26(20):9994. PubMed
  3. Virk J, Li J, Vestergaard M, Obel C, Lu M, Olsen J. Early life disease programming during the preconception and prenatal period: making the link between stressful life events and type-1 diabetes. PLoS One. 2010;5(7):e11523. PubMed
  4. Sims EK, Mirmira RG, Evans-Molina C. The role of beta-cell dysfunction in early type 1 diabetes. Curr Opin Endocrinol Diabetes Obes. 2020;27(4):215-224. PubMed
  5. Nygren M, Carstensen J, Koch F, Ludvigsson J, Frostell A. Experience of a serious life event increases the risk for childhood type 1 diabetes: the ABIS population-based prospective cohort study. Diabetologia. 2015;58(6):1188-1197. PubMed
  6. Jaser SS, Patel N, Xu M, Tamborlane WV, Grey M. Stress and Coping Predicts Adjustment and Glycemic Control in Adolescents with Type 1 Diabetes. Ann Behav Med. 2017;51(1):30-38. PubMed
  7. American Diabetes Association Professional Practice Committee. 2. Diagnosis and Classification of Diabetes: Standards of Care in Diabetes-2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S27-S49. PubMed
  8. Yang S, Zhao B, Zhang Z, Dai X, Zhang Y, Cui L. Association between enterovirus infection and clinical type 1 diabetes mellitus: systematic review and meta-analysis of observational studies. Epidemiol Infect. 2021;150:e23. PubMed
  9. Fisher V, Li WW, Malabu U. The effectiveness of mindfulness-based stress reduction (MBSR) on the mental health, HbA1C, and mindfulness of diabetes patients: A systematic review and meta-analysis of randomised controlled trials. Appl Psychol Health Well Being. 2023;15(4):1733-1749. PubMed
  10. Vedantam D, Poman DS, Motwani L, Asif N, Patel A, Anne KK. Stress-Induced Hyperglycemia: Consequences and Management. Cureus. 2022;14(7):e26714. PubMed