Prinsip pengukuran sensor glukosa transkutan

Sumber terverifikasi Diperbarui: 7 September 2026 7 menit baca

Filamen sensor transkutan tidak membaca gula darah secara langsung, melainkan menyimpulkannya dari sebuah reaksi kimia. Enzim yang menempel di ujungnya bereaksi dengan glukosa dalam cairan jaringan, lalu di elektroda muncul arus listrik yang sangat kecil, yang kemudian diubah oleh perangkat elektroniknya menjadi angka di layar.

elektrokimia
glukosa diubah menjadi arus listrik yang sangat kecil
glukosa oksidase
enzim yang membuat sensor khusus mengenali glukosa
sebanding
arusnya membesar seiring kadar glukosa

Bagaimana sensor transkutan mengukur kadar gula darah?

Sensor transkutan memiliki filamen yang sangat halus dan lentur, jauh lebih tipis daripada jarum, yang dimasukkan tepat di bawah kulit, ke dalam jaringan lemak. Filamen itu tidak berada di dalam pembuluh darah, melainkan di dalam cairan di antara sel jaringan tersebut, yang disebut cairan jaringan. Sensor tidak mengukur langsung dari darah, melainkan menilai kadar glukosa dalam cairan itu, yang mengikuti gula darah dengan setia [1].

Pengukurannya berlangsung secara elektrokimia. Sensor mengubah kadar glukosa menjadi arus listrik yang sangat kecil dengan bantuan sebuah enzim dan sebuah elektroda (filamen halus itu sendiri) [2]. Semakin banyak glukosa dalam cairan jaringan, semakin besar arus yang timbul di tempat itu. Hasilnya dapat sedikit tertinggal dari gula darah ketika gula darah berubah dengan cepat. Glukosa dalam cairan itu menyesuaikan diri dengan nilai dalam darah dengan sedikit keterlambatan [3].

Apa peran enzim dalam sensor transkutan?

Ujung filamen yang berada di bawah kulit dilapisi enzim yang menempel pada permukaannya, paling sering glukosa oksidase. Enzim ini adalah katalisator biologis, artinya ia mempercepat reaksi kimia antara glukosa dan oksigen tanpa ikut habis dalam proses itu [4]. Bagian inilah yang sebenarnya mengenali glukosa dan membuat sensor menjadi alat yang khusus ditujukan untuk glukosa, bukan sekadar elektroda biasa.

Peran utama enzim adalah memberi sensor kekhususan, yaitu menanggapi glukosa dan sebagian besar mengabaikan zat lain [5]. Namun pemilihan itu tidak sepenuhnya sempurna: pada sebagian model, zat seperti parasetamol atau vitamin C dapat mengubah hasilnya [5]. Tanpa enzim ini, sensor tidak akan mampu membedakan glukosa dari molekul lain dalam cairan jaringan. Beberapa sensor lama memakai enzim serumpun, yaitu glukosa dehidrogenase, tetapi prinsip pengukurannya tetap sama [5] [6].

Bagaimana sensor transkutan mengubah glukosa menjadi sinyal?

Enzim (glukosa oksidase) membuat glukosa bereaksi dengan oksigen yang ada dalam cairan jaringan. Reaksi itu menghasilkan asam glukonat dan hidrogen peroksida. Jumlah hidrogen peroksida yang terbentuk berbanding lurus dengan kadar glukosa, artinya semakin banyak glukosa, semakin banyak pula hidrogen peroksida [4].

Hidrogen peroksida itu sampai ke elektroda sensor, lalu terurai dan melepaskan elektron yang membentuk arus listrik yang sangat lemah. Arus inilah yang pada dasarnya menjadi sinyal yang ditangkap sensor, dan besarnya mencerminkan kadar glukosa dalam cairan jaringan, seperti yang ditunjukkan gambar di bawah [5].

Gambar 1

Bagaimana sensor memperkirakan gula darah

  1. Langkah 1Enzim bertemu glukosaGlukosa oksidase di ujung filamen membuat glukosa bereaksi dengan oksigen, di dalam cairan di antara sel.
  2. Langkah 2Muncul hidrogen peroksidaJumlah yang terbentuk berbanding lurus dengan kadar glukosa. Makin banyak glukosa, makin banyak hidrogen peroksida.
  3. Langkah 3Elektroda menangkap arusDi elektroda, hidrogen peroksida terurai dan melepaskan elektron, yang membentuk arus listrik yang sangat lemah.
  4. Langkah 4Arus menjadi sebuah nilaiAlatnya mengubah besarnya arus menjadi nilai glukosa yang Anda lihat di layar.
Pengukurannya elektrokimia, bukan optik. Sensor tidak melihat glukosa, melainkan mengubahnya menjadi arus listrik [2]. Makin banyak glukosa dalam cairan di antara sel, makin besar arus yang terbentuk di tempat itu [5]. Reaksinya memakai glukosa dalam jumlah yang dapat diabaikan, jadi sensor tidak menurunkan gula darah Anda.

Apakah reaksi dalam sensor transkutan menghabiskan glukosa?

Ya, reaksi itu memakai glukosa dalam jumlah yang sangat kecil. Setiap molekul glukosa yang bereaksi dengan oksigen setempat berubah menjadi asam glukonat, jadi molekul itu terpakai di tempat. Enzim yang menempel pada filamen ditutupi membran khusus yang hanya melewatkan glukosa dalam jumlah kecil dan terkendali, sehingga reaksinya tetap terbatas: kecepatannya ditentukan oleh membran itu, bukan oleh banyaknya glukosa di sekitarnya [7].

Jumlah yang terpakai itu cukup kecil sehingga tidak menurunkan gula darah dan tidak menghabiskan glukosa di sekitar filamen, jadi pengukuran berikutnya pun tidak terpengaruh. Tubuh terus-menerus melengkapi kembali glukosa dalam cairan jaringan dari glukosa yang ada di darah. Enzim adalah katalisator dan tidak ikut habis, tetapi seiring waktu baik enzim maupun membrannya dapat aus, dan karena itulah sensor memiliki masa pakai yang terbatas [8].

Bagaimana sinyal sensor transkutan menjadi angka yang ditampilkan?

Yang Anda lihat sebagai satu filamen sederhana di bawah kulit sebenarnya berisi beberapa elektroda, yang tersusun dalam lapisan yang sangat tipis dan saling terpisah pada penopang lentur yang sama. Setiap elektroda memiliki perannya sendiri:

  • elektroda kerja dilapisi enzim dan menghasilkan sinyalnya;
  • elektroda pembanding menjaga tegangan tetap mantap, yang dipakai sebagai acuan;
  • elektroda bantu menutup rangkaian listriknya [6].

Perangkat elektronik yang terpasang pada sensor menjaga tegangan tetap sama antara elektroda kerja dan elektroda pembanding, dan reaksi kimianya tidak mengubah tegangan itu, melainkan kuat arusnya. Semakin tinggi kadar glukosa dalam cairan jaringan, semakin besar kuat arus yang mengalir lewat elektroda kerja.

Sebagian sistem menambahkan elektroda keempat, tanpa enzim, yang mengukur derau latar, yaitu sinyal kecil yang tetap ada meski tidak ada glukosa. Sinyal elektroda ini dikurangkan dari sinyal yang berguna, untuk menekan pengaruh zat lain.

Arus yang terukur dibaca terus-menerus oleh perangkat elektroniknya (transmiter). Sebuah faktor kalibrasi mengubah arus itu menjadi nilai gula darah perkiraan [2]. Banyak sensor modern sudah dikalibrasi dari pabrik, sedangkan sebagian lain sesekali memerlukan pemeriksaan dan kadang kalibrasi ulang dengan glukometer [9]. Algoritme sistem, yaitu program yang berjalan di dalam transmiter atau di aplikasi telepon, meratakan naik-turun kecil arus listriknya dan sebagian mengoreksi keterlambatan antara cairan jaringan dan darah [3]. Hasilnya dinyatakan dalam mg/dL atau mmol/L dan dikirim secara nirkabel ke telepon atau penerima lain.

Apakah sensor transkutan membutuhkan energi untuk bekerja?

Ya, sensor memerlukan sumber energi kecil, biasanya sebuah baterai yang berada di dalam transmiter. Energi itu menjaga potensial listrik tetap mantap pada elektroda, dan reaksi kimia yang dipercepat glukosa oksidase menghasilkan arus yang sebanding dengan kadar glukosa [6]. Energi yang sama pula yang menghidupi pengolahan sinyal, memori internal, dan pengiriman data secara nirkabel ke telepon atau penerima [10].

Pemakaian energinya sangat kecil, sehingga baterai mungil sudah cukup untuk seluruh masa Anda memakai sensor. Sebagian besar sistem pemantauan berkelanjutan bekerja antara 7 dan 15 hari (belakangan bahkan 21 hari) [11] [12]. Setelah jangka waktu itu sensor diganti dengan yang baru, bersama sumber energinya. Pada model yang lebih lama, transmiternya dipakai ulang untuk beberapa sensor [10].

Kesimpulan

  • Filamen sensor berada di dalam cairan jaringan di bawah kulit, bukan di dalam pembuluh darah, dan pengukurannya berlangsung secara elektrokimia [1] [2].
  • Enzim yang menempel di ujung filamen, paling sering glukosa oksidase, adalah katalisator yang tidak ikut habis dan yang memberi sensor kekhususan terhadap glukosa [4] [5].
  • Glukosa bereaksi dengan oksigen dan menghasilkan hidrogen peroksida, yang di elektroda melepaskan elektron, dan arus yang timbul sebanding dengan kadar glukosa [4] [5].
  • Sebuah faktor kalibrasi mengubah arus menjadi gula darah perkiraan, sedangkan program internalnya meratakan sinyal dan sebagian mengoreksi keterlambatan terhadap darah [2] [3].
  • Baterai mungil di dalam transmiter menjaga potensial elektroda dan mengirimkan datanya secara nirkabel, selama 7–15 hari yang biasanya menjadi masa pakai sebuah sensor [10] [11].

Anda mungkin juga tertarik

Halaman lain tentang dasar-dasar teknologi sensor glukosa.

Istilah glosarium yang dipakai di sini

Rujukan

  1. Ionescu-Tîrgoviște C, Guja C, Ioacara S, Dumitrescu D, Tomescu I. Continuous glucose monitoring: physiologic and pathophysiologic significance. Rom J Intern Med. 2004;42(2):381-393. PubMed
  2. Acciaroli G, Vettoretti M, Facchinetti A, Sparacino G. Calibration of Minimally Invasive Continuous Glucose Monitoring Sensors: State-of-The-Art and Current Perspectives. Biosensors (Basel). 2018;8(1):24. PubMed
  3. Keenan DB, Mastrototaro JJ, Voskanyan G, Steil GM. Delays in minimally invasive continuous glucose monitoring devices: a review of current technology. J Diabetes Sci Technol. 2009;3(5):1207-1214. PubMed
  4. Bankar SB, Bule MV, Singhal RS, Ananthanarayan L. Glucose oxidase--an overview. Biotechnol Adv. 2009;27(4):489-501. PubMed
  5. Hassan MH, Vyas C, Grieve B, Bartolo P. Recent Advances in Enzymatic and Non-Enzymatic Electrochemical Glucose Sensing. Sensors (Basel). 2021;21(14):4672. PubMed
  6. Heller A, Feldman B. Electrochemistry in diabetes management. Acc Chem Res. 2010;43(7):963-973. PubMed
  7. Wu M, Li L, Yu R, Zhang Z, Zhu B, Lin J, et al. Tailored diffusion limiting membrane for microneedle glucose sensors with wide linear range. Talanta. 2024;273:125933. PubMed
  8. Vaddiraju S, Burgess DJ, Tomazos I, Jain FC, Papadimitrakopoulos F. Technologies for continuous glucose monitoring: current problems and future promises. J Diabetes Sci Technol. 2010;4(6):1540-1562. PubMed
  9. American Diabetes Association Professional Practice Committee. 7. Diabetes Technology: Standards of Care in Diabetes-2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S150-S165. PubMed
  10. Cappon G, Vettoretti M, Sparacino G, Facchinetti A. Continuous Glucose Monitoring Sensors for Diabetes Management: A Review of Technologies and Applications. Diabetes Metab J. 2019;43(4):383-397. PubMed
  11. Bhargava A, McKeating KS, Lin A, Chen T. Accuracy and Reliability of the Sinocare Continuous Glucose Monitoring System. Diabetes Ther. 2025;16(9):1861-1870. PubMed
  12. Forlenza GP, Deshpande S, Ly TT, Howsmon DP, Cameron F, Baysal N, et al. Application of Zone Model Predictive Control Artificial Pancreas During Extended Use of Infusion Set and Sensor: A Randomized Crossover-Controlled Home-Use Trial. Diabetes Care. 2017;40(8):1096-1102. PubMed